Setelah live pertama kamu laku, pertanyaan berikutnya hampir pasti muncul: lebih hemat merekrut host sendiri, atau terus pakai agency?
Jawabannya tergantung skala, dan tergantung siapa yang mengurus hal-hal di luar kamera.
Apa saja yang dibutuhkan live rutin
Live yang jalan setiap hari butuh lebih dari satu orang di depan kamera:
- Host utama yang menguasai produk dan bisa menjawab komentar.
- Host cadangan untuk rotasi dan saat host utama berhalangan.
- Operator yang mengatur OBS, overlay harga, dan voucher selama live.
- Penulis script yang memperbarui brief dari data sesi sebelumnya.
- Analis yang membaca performa per jam dan per produk.
- Ruang dan alat: lighting, kamera, koneksi stabil, set yang rapi.
Di agency, peran-peran ini dibagi ke beberapa klien. Kalau in-house, semuanya kamu tanggung sendiri.
Menghitung biaya in-house dengan jujur
Patokan paling dasar adalah upah minimum. UMP DKI Jakarta 2026 adalah Rp5.729.876 per bulan. Itu batas bawah untuk satu orang, belum termasuk BPJS, THR, dan biaya rekrutmen.
Sekarang hitung berapa orang yang kamu butuhkan untuk menutup peran di atas. Untuk live beberapa jam per hari dengan rotasi, biasanya minimal dua host ditambah satu operator. Peran script dan analisis sering dirangkap oleh tim marketing yang sudah sibuk.
Tambahkan investasi alat dan ruangan, dan waktu kamu untuk melatih host baru setiap kali ada yang keluar.
Kapan in-house masuk akal
- Live sudah jadi kanal penjualan utama, dengan jam tayang panjang setiap hari.
- Kamu punya orang yang khusus mengurus live: jadwal, data, dan pelatihan host.
- Produk kamu sangat teknis dan butuh host yang benar-benar paham produk dalam jangka panjang.
Kapan agency lebih masuk akal
- Kamu masih mencari format live yang laku dan belum mau investasi alat dan rekrutmen.
- Tim marketing kamu tidak punya waktu membaca data per sesi.
- Kamu butuh live di lebih dari satu platform tanpa menambah karyawan.
- Kamu mau bisa menambah atau mengurangi jam live sesuai musim belanja.
Opsi tengah: mulai di agency, pindah bertahap
Banyak brand memakai agency untuk menemukan formula: jam tayang, gaya host, produk yang laku di live. Setelah polanya jelas dan volumenya besar, sebagian brand membangun tim sendiri dengan playbook yang sudah teruji.
Kalau ini rencanamu, minta agency membagikan data per sesi sejak awal. Data itu yang nanti jadi bekal tim in-house kamu.
Contoh dari klien kami: GMV bulanan Baseus di TikTok Shop naik dari Rp 30 juta ke Rp 605 juta (20x) setelah live memakai KOL sebagai co-host. Format seperti ini susah dijalankan tim kecil in-house, karena butuh koordinasi host, kreator, dan jadwal sekaligus.
Tiga pertanyaan untuk memutuskan
- Berapa jam live per hari yang kamu butuhkan dalam 6 bulan ke depan?
- Siapa di tim kamu yang akan membaca data live setiap minggu?
- Kalau host utama keluar bulan depan, berapa lama sampai penggantinya siap?
Kalau dua dari tiga pertanyaan ini belum punya jawaban, agency biasanya pilihan yang lebih aman untuk sekarang.
Bandingkan sendiri dengan paket kami di halaman agency live streaming TikTok Shop Jakarta, atau kenalan dulu dengan host-host kami.